Sabtu, 02 Juni 2018

MOTIVASI - Pemimpin Yang Dicintai


Bagaimana menjadi pemimpin yang dicintai oleh tim atau bawahan:
  • Memiliki tujuan (purpose).
  • Menentukan tugas yang harus lakukan.
  • Menentukan orang-orang yang akan melakukan tugas.
  • Membentuk kerjasama tim.
  • Mencapai hasil akhir (result).

Kelima hal tersebut disebut dengan proses yang harus dilakukan, bergerak mulai dari purpose, tugas, orang, kerjasama, dan result. Kelima proses tersebut melibatkan tim. Tapi jika tim tersebut tidak mencintai pemimpinnya, maka hasil akhirnya (result) akan gagal diwujudkan.

Bagaiman agar pemimpim dicintai / diterima oleh tim atau bawahannya, yaitu: pemimpin harus bisa menyenangkan tim dengan membuat mereka nyaman. Dengan begitu, tim tersebut akan menerima pemimpin mereka dan mereka bisa bekerja secara maksimal.

Seorang pemimpin harus bisa menentukan fokusnya kemana. Fokus menjadi pemimpin yang baik atau fokus pada tim. Jika seorang pemimpim fokus pada tim, pemimpin harus mampu membawa timnya dari titik terendah sampai ke titik tertinggi, yaitu tujuan perusahaan dan tujuan pemimpin itu sendiri.

Dimana hal itu disebut perubahan yang dilakukan oleh pemimpin. Seringkali perubahan menimbulkan ketidaknyamanan. Tapi selama pemimpin memiliki tujuan, maka tim dapat melakukan apa saja yang membuat mereka berhasil mencapai tujuan dan menang. Jika pempimpin berhasil mengarahkan tim pada kemenangan, maka tim akan mencintai pemimpinnya.

Pemimpin  harus mampu berhubungan secara baik dengan tim atau bawahannya. Seorang pemimpin tidak bisa hanya menunjukkan prestasi kerjanya saja, namun ia harus bisa mencintai dan dicintai oleh timnya. Karena untuk mencapai suatu tujuan, maka dibutuhkan pemimpin yang mencintai timnya dan tim yang menerima pemimpinnya.



Sumber :
Youtube : Cicik Resti

ESSAY - Pengaruh Perkembangan Teknologi Informasi Terhadap Perkembangan Bahasa Indonesia khususnya di Media Sosial


Pesatnya perkembangan teknologi berbanding lurus dengan semakin maraknya penggunaan media sosial di kalangan masyarakat. Masyarakat yang dulu mengenal media sosial semacam Facebook, Twitter kini mulai beralih menggunakan Instagram, Line, Tik Tok, dan media sosial baru lainnya. Ditambah jumlah pengguna masing-masing media sosial tersebut semakin meningkat setiap harinya, hal ini menjadikan media sosial salah satu dari bagian kehidupan masyarakat urban.

Perkembangan media sosial, tidak bisa dipungkiri, merupakan salah satu pembahasan yang cukup menarik untuk dibahas. Menurut salah satu artikel yang dipublish oleh Iran Indonesia Radio, ‘media sosial dewasa ini telah merambah ke berbagai dimensi yang diakses oleh hampir seluruh lapisan masyarakat.’ Namun, lanjutnya lagi, hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa media sosial dapat menjadi suatu ancaman. Ancaman ini, oleh beberapa ahli ditemukan pada ancaman penggunaan bahasa media sosial, atau yang dikenal dengan sebutan ‘bahasa gaul’ terhadap keorisinilan bahasa ibu.

Bahasa gaul merupakan bahasa yang dikenal dalam dunia pergaulan. Istilah ini muncul pada tahun 1980-an yang pada saat itu bahasa gaul diartikan sebagai bahasanya para bajingan dan anak jalanan (Pradana, 2012). Namun, seiring dengan perkembangan zaman, bahasa gaul kini mulai dikenal luas sebagai bahasa modern. Pesatnya perkembangan bahasa gaul, menunjukan bahwa masyarakat Indonesia semakin akrab dengan dunia teknologi terutama internet ‘karena suatu bahasa harus menyesuaikan dengan masyarakat penggunanya agar tetap eksis’ (Pradana, 2012).

Banyaknya kemudahan yang ditawarkan dalam dunia sosial, terutama kemudahan bahasa. Tersedianya berbagai bahasa di dunia, bagi penikmatnya berakibat pada semakin banyaknya pengunjung media sosial setiap harinya. Tidak adanya batasan sosial dan bahasa semakin memperkuat maraknya perkembangan bahasa gaul di kalangan masyarakat. Sebagai contoh, fenomena bahasa alay. Bahasa alay merupakan suatu fenomena yang muncul di kalangan remaja. Fenomena ini, menurut beberapa pustakawan terjadi karena adanya pemberontakan pada diri remaja terhadap tata bahasa. Menurut Owen (Papilia, 2004) remaja memiliki kepekaan terhadap kata-kata bermakna ganda. Mereka menyukai penggunaan metafora, ironi, dan bermain kata-kata untuk mengungkapkan pendapat dan ekspresi mereka. Selain itu, remaja juga sangat kreatif dalam bermain kata-kata.

Umumnya, penggunaan bahasa alay ini banyak ditemukan pada postingan remaja di berbagai media sosial. Namun, penggunaan bahasa alay ini memiliki efek domino terhadap remaja lainnya. Rata-rata dari mereka akan menyerap dan meniru apa yang telah teman mereka post. Karena, menurut mereka hal tersebut merupakan sesuatu yang ngetren. Seperti contoh penggunaan metafora ‘bingung tingkat dewa’, ‘kesel setengah mampus’, yang mengekspresikan kebingungan dan kekesalan luar biasa yang sedang mereka alami. Adapula penggunaan kata-kata yang mereka reduksi sendiri menjadi sebuah kata baru, seperti ‘warbiyazah’, yang sekilas terlihat seperti serapan dari bahasa arab. Padahal kata tersebut merupakan reduksi dari frase ‘luar biasa’ yang direduksi agar memiliki makna berlipat.

Kebiasaan menggunakan bahasa gaul dalam media sosial berakibat pada sulitnya masyarakat Indonesia berkomunikasi dalam lingkungan formal. Misalnya, ketika mereka harus mempresentasikan sesuatu atau membuat makalah berbahasa Indonesia. Beberapa penelitian menemukan bahwa gaya bahasa yang digunakan oleh remaja di Indonesia kebanyakan sudah tercampur dengan bahasa gaul. Dalam suatu situasi pembelajaran, ketika akan mempresentasikan sesuatu di depan kelas, remaja Indonesia pada umumnya menggunakan kata‘mempresentasiin’ ketimbang ‘mempresentasikan’

Kekhawatiran akan semakin maraknya penggunaan bahasa gaul/bahasa alay pada media sosial tentulah beralasan. Bahasa gaul/alay dianggap sebagai ancaman yang serius terhadap kaidah tata bahasa Indonesia, karena meskipun dalam dunia linguistik dikenal dengan bahasa baku dan tidak baku, bahasa alay adalah bahasa tidak baku yang tidak mengindah. Selain itu, sifat dari media sosial yang membuat penikmatnya asik dengan dunia maya mereka masing-masing membuat mereka malas berkomunikasi di dunia nyata. Akibatnya, karena sering berinteraksi di media sosial dengan bahasa gaul/alay, tingkat pemahaman bahasapun akan terganggu.

Apabila hal ini dibiarkan terus menerus dan tidak dilakukan pencegahan, lama-lama bahasa gaul inipun akan bersifat arbiter. Hilanglah sudah keorisinilan bahasa ibu kita, bahasa Indonesia. Maka, untuk menghidari hal ini perlu adanya upaya untuk menanamkan dan menumbuhkan kecintaan terhadap pemahaman bahasa Indonesia. Salah satu upaya yang telah terbukti efektif adalah pendekatan pembelajaran bahasa Indonesia dengan menggunakan media sosial dalam membantu siswa memahami kaidah tata bahasa Indonesia yang baik dan benar. Selain media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia, terutama kaum remaja, upaya ini juga dilatarbelakangi fenomena remaja masa kini yang lebih banyak berinteraksi di dunia maya.

Sebenarnya, ada banyak sekali upaya-upaya pencegahan yang dapat kita lakukan agar perkembangan bahasa gaul di media sosial ini tidak berkembang dengan pesat. Seperti yang kita ketahui bahwa jika suatu bahasa digunakan secara terus-menerus dan diterima di masyarakat, maka akan munculnya pengakuan sehingga bahasa tersebut sah digunakan. Namun, dibalik semua upaya yang dapat dilakukan, sebenarnya upaya terbesar datang dari diri kita sendiri. Upaya penyadaran diri akan kaidah tata bahasa yang baik dan benar.

AUDIT TATAKELOLA TEKNOLOGI INFORMASI PADA TERMINAL KARGO – MINANGKABAU INTERNATIONAL AIRPORT


TENTANG TERMINAL KARGO
Bisnis pengiriman atau pengangkutan barang memiliki prospek usaha yang sangat strategis termasuk bisnis pengiriman barang melalui angkatan udara (kargo). Peluang bisnis yang strategis ini, dimamfaatkan oleh Angkasa Pura II dengan mengoperasikan terminal kargo yang dimulai sejak tahun 2007. Angkasa Pura II membentuk unit bisnis strategis yang mengelola pelayanan kargo di setiap bandara yang dikelola, seperti halnya Terminal Kargo Minangkabau International Airport

VISI PERUSAHAAN
Menjadi perusahaan Cargo yang handal dengan menawarkan layanan yang berkualitas kepada masyarakat Indonesia.

MISI PERUSAHAAN
  • -Bekerja keras menciptakan peluang dan pertumbuhan untuk menjadi perusahaan yang terbaik.
  • -Mengutamakan mutu dan pelayanan demi kepuasan pelanggan.
  • -Menjadi mitra usaha yang andal dan terpercaya.
  • -Menjadi tempat untuk berprestasi dan mengembangkan diri bagi karyawan.
  • -Menjadi asset yang berharga dan membanggakan bagi masyarakat, bangsa dan negara.

TUGAS POKOK DAN FUNGSI TERMINAL KARGO
  • -Melayani pengiriman barang, mulai dari proses penggudangan sampai dengan penerbangan.
  • -Mengantar kiriman barang dengan cepat sesuai dengan prosedur.
  • -Meningkatkan kapasitas pergudangan kargo yang dapat menampung peningkatan volume transaksi.

HASIL AUDIT TATAKELOLA TI
Audit Tatakelola Teknologi Informasi ini dilakukan pada TERMINAL KARGO – MINANGKABAU INTERNATIONAL AIRPORT. Auditor dari audit tersebut terdiri dari 5 orang yaitu :
  • -RAYA MELATI PUTRI
  • -NADIA REKA
  • -SAYYIDINA HUSEN
  • -NANDA ELDIRA PRAZOLA
  • -GERYS ADHANISAL
Teknik yang kami gunakan dalam audit TI ini yaitu dengan melihat dokumen, penyebaran kuisioner dan wawancara langsung dengan pengelola TI. 



Hasil yang kami dapatkan dari audit tersebut adalah sebagai berikut :
Orientasi Pengguna
  • Memberi produk dan layanan dengan nilai tambah kepada pengguna.
  • Tujuan : Membangun dan mempertahankan citra dan reputasi di mata pengguna dengan memanfatkan peluang TI; Membangun hubungan dengan komunitas; Memenuhi persyaratan pengguna.
  • Pertanyaan : Apakah produk dan jasa yang dihasilkan oleh departemen atau fungsi TI mampu menambah kebutuhan pengguna?
    1.   
    Tidak mampu
    2.   
    Cukup mampu
    3.   
    Mampu
    4.   
    Sudah mampu
    5.   
    Sudah sangat mampu
  • Jawaban : 4. Sudah Mampu
  • Parameter yang digunakan untuk menjawab pertanyaan diatas adalah :
    1.   
    Sistem informasi rotasi karyawan.
    2.   
    Sistem informasi kepegawaian



Nilai Bisnis
  • Menghasilkan nilai bagi bisnis
  • Tujuan : Membangun dan mempertahankan citra dan reputasi di mata manajemen; menjamin SI berkontribusi dalam penciptaan nilai bagi organisasi; pengendalian biaya TI; menjual layanan dan produk TI kepada pihak ketiga.
  • Pertanyaan : Apakah departemen TI berkontribusi terhadap penciptaan nilai bagi bisnis secara keseluruhan?
    1.   
    Tidak terkontribusi
    2.   
    Cukup terkontribusi
    3.   
    Terkontribusi
    4.   
    Sudah Terkontribusi
    5.   
    Sudah sangat terkontribusi
  • Jawaban : 4. Sudah terkontribusi
  • Parameter yang digunakan untuk menjawab pertanyaan diatas adalah :
    1.   
    Kendali biaya.
    2.   
    Penjualan kepada pihak ketiga.
    3.   
    Nilai bisnis dari proyek TI.
    4.   
    Risiko.
    5.   
    Nilai bisnis departemen TI.



Proses Internal
  • Menghasilkan produk dan layanan dengan cara-cara yang efektif dan efesien.
  • Tujuan : Mengantisipasi dan mempengaruhi permintaan dari pengguna dan manajemen, efisiensi dalam perencanaan dan pengembangan aplikasi TI, efesiensi dalam penggunaan dan perawatan aplikasi TI, efesiensi dalam mencari dan menyeleksi perangkat keras dan perangkat baru, melakukan pelatihan cost effective yang memuaskan pengguna, menangani setiap masalah TI yang timbul secara efektif.
  • Pertanyaan : Apakah departemen TI memberi dan mempertahankan produk dan jasa dengan cara-cara efesien?
    1.   
    Tidak memberi dan tidak mempertahankan produk dan jasa
    2.   
    Cukup memberi dan cukup mempertahankan produk dan jasa
    3.   
    Memberi dan mempertahankan produk dan jasa
    4.   
    Sudah memberi dan mempertahankan produk dan jasa
    5.   
    Sudah sangat mempertahankan produk dan jasa
  • Jawaban : 4. Sudah memberi dan mempertahankan produk dan jasa.
  • Parameter yang digunakan untuk menjawab pertanyaan diatas adalah :
    1.   
    Perencanaan : persentase sumber daya yang digunakan untuk merencanakan dan menelaah aktivitas TI.
    2.   
    Pengembangan : persentase sumber daya yang digunakan untuk pengembangan aplikasi.



Kesiapan ke Depan
  • Melakukan perbaikan kontinu dan siap menghadapi tantangan masa depan.
  • Tujuan : Mengantisipasi dan siap terhadap berbagai masalah terkait TI; secara rutin meningkatkan keterampilan TI melalui pelatihan dan pengembangan; secara rutin memperbarui portofolio aplikasi SI; secara rutin memperbarui perangkat keras dan perangkat lunak; melakukan penelitian cost-effective ke dalam teknologi baru dan bisnis yang tepat.
  • Pertanyaan : Apakah departemen TI memperbaiki produk dan layanan TI dan siap menghadapi tantangan dan perubahan ke depan?
    1.   
    Tidak memperbaiki dan tidak siap menghadapi tantangan dan perubahan
    2.   
    Cukup memperbaiki dan cukup siap menghadapi tantangan dan perubahan
    3.   
    Memperbaiki dan siap menghadapi tantangan dan perubahan
    4.   
    Sudah memperbaiki dan siap menghadapi tantangan dan perubahan
    5.   
    Sudah sangat memperbaiki dan siap menghadapi tantangan dan perubahan.
  • Jawaban : 4. Sudah memperbaiki dan siap menghadapi tantangan dan perubahan
  • Parameter yang digunakan untuk menjawab pertanyaan diatas adalah :
    1.   
    Operasi
    2.   
    Kapabilitas spesialis TI
    3.   
    Portofolio aplikasi
    4.   
    Penelitian tentang teknologi terkini.



KESIMPULAN
  • Pengelola TI sudah mampu membangun produk dan jasa layanan TI sesuai dengan kebutuhan dan persyaratan pengguna.
  • Pengelola TI sudah terkontribusi dalam menghasilkan nilai bagi bisnis secara keseluruhan.
  • Pengelola TI sudah memberi dan mempertahankan produk dan jasa dengan cara yang efektif dan efesien.
  • Pengelola TI sudah memperbaiki dan siap menghadapi tantangan dan perubahan ke depan.

Postingan TERBARU

SISTEM CERDAS - Spreading Activation Mobile (SAM)

Spreading Activation Mobile (SAM) adalah aplikasi yang dikembangkan oleh Cincinnati Children’s Hospital Medical Center untuk ngelacak k...

Postingan POPULER